- PENGERTIAN ETIKA
Dibawah ini merupakan beberapa pengertian dari etika:
(Keraf ,1998) Etika berasal dari bahasa Yunani,
ethos (tunggal) atau
ta etha (jamak)
yang berarti watak, kebiasaan dan adat istiadat. Pengertian ini
berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang
maupun suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke
generasi lain.
(Muslich ,1998) Etika sebagai filsafat moral atau ilmu yang
mendekatkan pada pendekatan kritis dalam melihat dan memahami
nilai dan norma moral yang timbul dalam kehidupan masyarakat.
1. PENGERTIAN PROFESI
Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua
pengertian yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam
pengertian yang lebih luas menjadi: kegiatan “apa saja” dan “siapa saja”
untuk memperoleh nafkah yang dilakukan dengan suatu keah-lian tertentu.
Sedangkan dalam arti sempit profesi berarti kegiatan yang dijalankan
berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut daripadanya
pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
(Syaiful,2000) Jabatan Guru Sebagai Suatu Profesi. Jabatan guru dapat
dikatakan sebuah profesi karena menjadi seorang guru dituntut suatu
keahlian tertentu (mengajar, mengelola kelas, merancang pengajaran) dan
dari pekerjaan ini seseorang dapat memiliki nafkah bagi kehidupan
selanjutnya. Hal ini berlaku sama pada pekerjaan lain. Namun dalam
perjalanan selanjutnya, mengapa profesi guru menjadi berbeda dari
pekerjaan lain. Menurut artikel “The Limit of Teaching Proffesion,”
profesi guru termasuk ke dalam profesi khusus selain dokter, penasihat
hukum, pastur. Kekhususannya adalah bahwa hakekatnya terjadi dalam suatu
bentuk pelayanan manusia atau masyarakat. Orang yang menjalankan
profesi ini hendaknya menyadari bahwa ia hidup dari padanya, itu haknya;
ia dan keluarganya harus hidup akan tetapi hakikat profesinya menuntut
agar bukan nafkah hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan
kesediaannya untuk melayani sesama.
Di lain pihak profesi guru juga disebut sebagai profesi yang luhur.
Dalam hal ini, perlu disadari bahwa seorang guru dalam melaksanakan
profesinya dituntut adanya budi luhur dan akhlak yang tinggi. Mereka
(guru) dalam keadaan darurat dianggap wajib juga membantu tanpa imbalan
yang cocok. Atau dengan kata lain hakikat profesi luhur adalah
pengabdian kemanusiaan.
- DUA PRINSIP ETIKA PROFESI GURU
(Soetjipto,1999) Tuntutan dasar etika profesi luhur yang pertama
ialah agar profesi itu dijalankan tanpa pamrih. Dr. B. Kieser
menuliskan:
“Seluruh ilmu dan usahanya hanya demi kebaikan pasien/klien. Menurut
keyakinan orang dan menurut aturan-aturan kelompok (profesi luhur), para
profesional wajib membaktikan keahlinan mereka semata-mata kepada
kepentingan yang mereka layani, tanpa menghitung untung ruginya sendiri.
Sebaliknya, dalam semua etika profesi, cacat jiwa pokok dari seorang
profe-sional ialah bahwa ia mengutamakan kepentingannya sendiri di atas
kepentingan klien.”
Yang kedua adalah bahwa para pelaksana profesi luhur ini harus
memiliki pegangan atau pedoman yang ditaati dan diperlukan oleh para
anggota profesi, agar kepercayaan para klien tidak disalahgunakan.
Selanjutnya hal ini kita kenal sebagai kode etik. Mengingat fungsi dari
kode etik itu, maka profesi luhur menuntut seseorang untuk menjalankan
tugasnya dalam keadaan apapun tetap menjunjung tinggi tuntutan
profesinya.
Kesimpulannya adalah jabatan guru juga merupakan sebuah profesi.
Namun demikian profesi ini tidak sama seperti profesi-profesi pada
umumnya. Bahkan boleh dikatakan bahwa profesi guru adalah profesi khusus
luhur. Mereka yang memilih profesi ini wajib menginsafi dan menyadari
bahwa daya dorong dalam bekerja adalah keinginan untuk mengabdi kepada
sesama serta menjalankan dan menjunjung tinggi kode etik yang telah
diikrarkannya, bukan semata-mata segi materinya belaka.
D. TUNTUTAN SEORANG GURU
Di atas telah dijelaskan tentang mengapa profesi guru sebagai profesi
khusus dan luhur. Berikut akan diuraikan tentang dua tuntutan yang
harus dipilih dan dilaksanakan guru dalam upaya mendewasakan anak didik.
Tuntutan itu adalah(Suharsimi,1980):
1. Mengembangkan visi anak didik tentang apa yang baik dan mengembangkan self esteem anak didik.
2. Mengembangkan potensi umum sehingga dapat bertingkah laku secara
kritis terhadap pilihan-pilihan. Secara konkrit anak didik mampu
mengambil keputusan untuk menentukan mana yang baik atau tidak baik.
Apabila seorang guru dalam kehidupan pekerjaannya menjadikan pokok
satu sebagai tuntutan yang dipenuhi maka yang terjadi pada anak didik
adalah suatu pengembangan konsep manusia terhadap apa yang baik dan
bersifat eks-klusif. Maksudnya adalah bahwa konsep manusia terhadap apa
yang baik hanya dikembangkan dari sudut pandang yang sudah ada pada diri
siswa sehingga tak terakomodir konsep baik secara universal. Dalam hal
ini, anak didik tidak diajarkan bahwa untuk mengerti akan apa yang baik
tidak hanya bertitik tolak pada diri siswa sendiri tetapi perlu mengerti
konsep ini dari orang lain atau lingkungan sehingga menutup
kemung-kinan akan timbulnya visi bersama (kelompok) akan hal yang baik.
Berbeda dengan tujuan yang pertama, tujuan yang kedua lebih
menekankan akan kemampuan dan peranan lingkungan dalam menentukan apa
yang baik tidak hanya berdasarkan pada diri namun juga pada orang lain
berikut akibatnya. Di lain pihak guru mempersiapkan anak didik untuk
melaksanakan kebebasannya dalam mengembangkan visi apa yang baik secara
konkrit dengan penuh rasa tanggung jawab di tengah kehidupan
bermasyarakat sehingga pada akhirnya akan terbentuklah dalam diri anak
sense of justice dan sense of good. Komitmen guru dalam mengajar guna
pencapaian tujuan mengajar yang kedua lebih lanjut diuraikan bahwa guru
harus memiliki loyalitas terhadap apa yang ditentukan oleh lembaga
(sekolah). Sekolah selanjutnya akan mengatur guru, KBM dan siswa supaya
mengalami proses belajar-mengajar yang berlangsung dengan baik dan
supaya tidak terjadi penyalahgunaan jabatan. Namun demikian, sekolah
juga perlu memberikan kebebasan bagi guru untuk mengembangkan,
memvariasikan, kreativitas dalam merencanakan, membuat dan mengevaluasi
sesuatu proses yang baik (guru mempunyai otonomi). Hal ini menjadi perlu
bagi seorang yang profesional dalam pekerjaannya.
Masyarakat umum juga dapat membantu guru dalam proses kegiatan
belajar mengajar. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat ikut
bertanggung jawab terhadap `proses’ anak didik. Ma-syarakat dapat
mengajukan saran, kritik bagi lembaga (sekolah). Lembaga (sekolah) boleh
saja mempertimbangkan atau menggunakan masukan dari masyarakat untuk
mengembangkan pendidikan tetapi lembaga (sekolah) atau guru tidak boleh
bertindak sesuai dengan kehendak masyarakat karena hal ini menyebabkan
hilangnya profesionalitas guru dan otonomi lembaga (sekolah) atau guru.
Dengan demikian, pemahaman akan visi pekerjaan sesuai dengan etika
moral profesi perlu dipahami agar tuntutan yang diberikan kepada guru
bukan dianggap sebagai beban melainkan visi yang akan dicapai guru
melalui pro-ses belajar mengajar. Guru perlu diberikan otonomi untuk
mengembangkan dan mencapai tuntutan tersebut.
- ETIKA KEGURUAN
(Suharsimi,1993)Sebenarnya kode etika pada suatu kerja adalah
sifat-sifat atau ciri-ciri vokasional, ilmiah dan aqidah yang harus
dimiliki oleh seorang pengamal untuk sukses dalam kerjanya. Lebih ketara
lagi ciri-ciri ini jelas pada kerja keguruan. Dari segi pandangan
Islam, maka agar seorang muslim itu berhasil menjalankan tugas yang
dipikulkan kepadanya oleh Allah S.W.T pertama sekali dalam masyarakat
Islam dan seterusnya di dalam masyarakat antarabangsa maka haruslah guru
itu memiliki sifat-sifat yang berikut:
1. Bahwa tujuan, tingkah laku dan pemikirannya mendapat bimbingan
Tuhan (Rabbani), seperti disebutkan oleh surah Al-imran, ayat 79,
“Tetapi jadilah kamu Rabbani (mendapat bimbingan Tuhan)”.
2. Bahwa ia mempunyai persiapan ilmiah, vokasional dan budaya
menerusi ilmu-ilmu pengkhususannya seperti geografi, ilmu-ilmu keIslaman
dan kebudayaan dunia dalam bidang pengkhususannya.
3. Bahwa ia ikhlas dalam kerja-kerja kependidikan dan risalah
Islamnya dengan tujuan mencari keredhaan Allah S.W.T dan mencari
kebenaran serta melaksanakannya.
4. Memiliki kebolehan untuk mendekatkan maklumat-maklumat kepada
pemikiran murid-murid dan ia bersabar untuk menghadapi masalah yang
timbul.
5. Bahwa ia benar dalam hal yang didakwahkannya dan tanda kebenaran
itu ialah tingkah lakunya sendiri, supaya dapat mempengaruhi jiwa
murid-muridnya dan anggota-anggota masyarakat lainnya. Seperti makna
sebuah hadith Nabi S.A.W, “Iman itu bukanlah berharap dan berhias tetapi
meyakinkan dengan hati dan membuktikan dengan amal”.
6. Bahwa ia fleksibel dalam mempelbagaikan kaedah-kaedah pengajaran
dengan menggunakan kaedah yang sesuai bagi suasana tertentu. Ini
memerlukan bahawa guru dipersiapkan dari segi professional dan
psikologikal yang baik.
7. Bahwa ia memiliki sahsiah yang kuat dan sanggup membimbing murid-murid ke arah yang dikehendaki.
8. Bahwa ia sedar akan pengaruh-pengaruh dan trend-trend global yang
dapat mempengaruhi generasi dan segi aqidah dan pemikiran mereka.
9. Bahawa ia bersifat adil terhadap murid-muridnya, tidak pilih kasih, ia mengutamakan yang benar.
Seperti makna firman Allah S.W.T dalam surah al Maidah ayat ke 8,
“Janganlah kamu terpengaruh oleh keadaan suatu kaum sehinga kamu
tidak adil. Berbuat adillah, sebab itulah yang lebih dekat kepada taqwa.
Bertaqwalah kepada Allah, sebab Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
buat”.
Inilah sifat-sifat terpenting yang patut dipunyai oleh seorang guru
Muslim di atas mana proses penyediaan guru-guru itu harus dibina.
Buku-buku pendidikan telah juga memberikan ciri-ciri umum seorang
guru, ciri-ciri itu tidak terkeluar dan sifat-sifat dan aspek-aspek
berikut(Soetjipto,1999):
1. Tahap pencapaian ilmiah
2. Pengetahuan umum dan keluasan bacaan
3. Kecerdasan dan kecepatan berfikir
4. Keseimbangan jiwa dan kestabilan emosi
5. Optimisme dan entusiasme dalam pekerjaan
6. Kekuatan sahsiah
7. Memelihara penampilan(mazhar)
8. Positif dan semangat optimisme
9. Yakin bahawa ia mempunyai risalah(message)
Dari uraian di atas jelaslah bahawa seorang guru Muslim memiliki
peranan bukan sahaja di dalam sekolah, tetapi juga diluarnya. Oleh yang
demikian menyiapkannya juga harus untuk sekolah dan untuk luar sekolah.
Maka haruslah penyiapan ini juga dipikul bersama oleh
institusi-institusi penyiapan guru seperti fakulti-fakulti pendidikan
dan maktab-maktab perguruan bersama-sama dengan masyarakat Islam
sendiri, sehingga guru-guru yang dihasilkannya adalah guru yang soleh,
membawa perbaikan (muslih), memberi dan mendapat petunjuk untuk
menyiarkan risalah pendidikan Islam. Petunjuk (hidayah) Islam di dalam
dan di luar adalah sebab tujuan pendidikan dalam Islam untuk membentuk
generasi-generasi umat Islam yang memahami dan menyedari risalahnya
dalam kehidupan dan melaksanakan risalah ini dengan sungguh-sungguh dan
amanah dan juga menyedari bahawa mereka mempunyai kewajipan kepada Allah
S.W.T dan mereka harus melaksanakan tugas itu dengan sungguh-sungguh
dan ikhlas. Begitu juga mereka sedar bahawa mereka mempunyai tanggung
jawab, maka mereka menghadapinya dengan sabar, hati-hati dan penuh
prihatin. Begitu juga mereka sedar bahawa mereka mempunyai tanggungjawab
terhadap masyarakatnya, maka mereka melaksanakannya dengan penuh
tanggungjawab, amanah, professionalisme dan kecekalan. Dengan demikian
umat Islam akan mencapai cita-citanya dalam kehidupan dengan penuh
kemuliaan, kekuatan, ketenteraman dan kebanggaan. Sebab Allah S.W.T
telah mewajibkan kepada diriNya sendiri dalam surah al-Nahl ayat ke 97,
“la tidak akan mensia-siakan pahala orang-orang yang berbuat baik”
Setelah berpanjang lebar tentang kode etika keguruan dalam pandangan
pendidikan Islam, marilah kita tutup bagian ini dengan suatu misal atau
model yang menjamin bahwa bila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan
penuh ketekunan maka masyarakat akan hidup bahagia dan individu-individu
dan kumpulan-kumpulan akan hidup dengan tenteram. Model ini tergambar
dalam firman Allah S.W.T yang bermaksud,
“Katakanlah (wahai Muhammad) marilah aku bacakan apa yang
dihararamkan kepadamu oleh Tuhanmu. Hendaklah berbuat baik kepada kedua
ibu bapa. Janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut kemiskinan,
sebab Kamilah yang memberi mereka dan kamu rezeki. Jangan kamu mendekati
perkara-perkara buruk yang terang-terangan dan yang tersembunyi. Jangan
kamu membunuh diri yang dihararamkan kamu membunuhnya kecuali dengan
kebenaran, itulah wasiat Allah kepadamu, mudah-mudahan kamu berakal.
Jangan kamu mendekati harta anak yatim kecuali untuk yang lebih baik
sehinggalah ia dewasa. Sempumakanlah ukuran dan timbangan dengan adil.
Allah tidak memberi beban seseorang kecuali yang disanggupinya. Jika
kamu berkata, maka berbuat adillah walaupun kepada sanak saudara.
Sempurnakanlah janjimu kepada Allah. Itulah pesanNya bagimu,
mudah-mudahan kamu ingat. Sungguh inilah jalanKu yang lurus, maka
ikutilah olehmu, jangan kamu ikut jalan-jalan lain nescaya kamu
bercerai-berai dari jalanNya. Itulah pesanNya bagimu, mudah-mudahan kamu
bertaqwa ”
Ayat-ayat ini mengandungi sepuluh perakuan (wasaya) penting dalam
kehidupan individu dan kumpulan-kumpulan Islam dan kemanusiaan. Ia
merupakan perlembagaan Ilahi dalam pendidikan dan bimbingan akhlak dan
sosial yang intinya adalah sebagai berikut(Suharsimi,1993);
1. Jangan mensyarikatkan Allah S.W.T.
2. Berbuat baik kepada ibu bapa.
3. Jangan membunuh anak kerana takut miskin.
4. Jangan mendekati perkara-perkara buruk.
5. Jangan membunuh manusia.
6. Jangan mendekati harta anak-anak yatim.
7. Sempurnakanlah timbangan dan ukuran dengan adil.
8. Tidak boleh dibebani seseorang lebih dari kemampuannya.
9. Berbuat adillah dalam berkata-kata walaupun pada kaum kerabat.
10. Sempumakanlah janjimu dengan Allah S.W.T.
Selepas uraian tentang kode etika dalam keguruan, marilah kita bahas
tentang penghayatan dan pengamalan nilai. Masalah penghayatan
(internalization) sesuatu perkara berlaku bukan hanya pada pendidikan
agama saja tetapi pada aspek pendidikan, pendidikan pra-sekolah,
pendidikan sekolah, pengajian tinggi, pendidikan latihan perguruan dan
lain-lain. Sebab adalah terlalu dangkal kalau pendidikan itu hanya
ditujukan untuk memperoleh ilmu (knowledge) dan ketrampilan (skill) saja
tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah penanaman sikap
(attitude) yang positif pada diri pendidik terhadap hal yang menjadi
tumpuan pendidikan. Pendidikan ilmu (knowledge) terutama yang berkenaan
dengan fakta-fakta dan ketrampilan tidaklah terlalu rumit sebab tidak
terlalu banyak melibatkan nilai-nilai. Tetapi sebaliknya pendidikan
sikap di mana terlibat nilai-nilai yang biasanya berasal dari cara-cara
pemasyarakatan yang diperoleh oleh kanak-kanak semasa kecil, apa lagi
kalau objek pendidikan itu memang adalah nilai-nilai yang tidak dapat
dinilai dengan betul atau salah tetapi dengan baik atau buruk, percaya
atau tidak percaya, suka atau tidak suka dan lain-lain lagi. Dalam
keadaan terakhir ini pendidikan tidak semudah dengan pendidikan fakta
atau ketrampilan.
Pendidikan nilai-nilai, yang selanjutnya kalau diulang-ulang sebab
diteguhkan akan berubah menjadi penghayatan nilai-nilai, mempunyai
syarat-syarat yang berlainan dengan pendidikan fakta-fakta ketrampilan.
1. Pertama sekali nilai itu mestilah mempunyai model. Yang berarti
tempat di mana nilai itu melekat supaya dapat disaksikan bagaimana
nilai-nilai itu beroperasi. Ambillah suatu nilai seperti kejujuran.
Nilai ini bersifat mujarrad(abstract), jadi tidak dapat diraba dengan
pancaindera. Tidak dapat dilihat dengan mata, rupanya bagaimana. Tidak
dapat dicium baunya, harum atau busuk dan sebagainya. Pendeknya, supaya
nilai yang bernama kejujuran itu dapat disaksikan beroperasi maka ia
harus melekat pada suatu model, seorang guru, seorang bapa, seorang
kawan dan lain-lain. Kalau model tadi dapat mencerminkan nilai-nilai
yang disebut, kejujuran itu pada dirinya, maka kejujuran itu boleh
menjadi perangsang. Itu syarat pertama. Syarat yang kedua kalau
kejujuran itu dapat menimbulkan peneguhan pada diri murid-murid maka ia
akan dipelajari, ertinya diulang-ulang dan kemudian berubah menjadi
penghayatan. Syarat kedua agak rumit sedikit, sebab selain daripada
nilai kejujuran itu sendiri, juga model tempat kejujuran itu melekat
diperlukan berfungsi bersama untuk menimbulkan peneguhan itu. Dengan
kata-kata yang lebih sederhana, seorang guru atau ibu yang mengajarkan
kejujuran kepada murid atau anaknya, haruslah ia sendiri lebih dahulu
bersifat jujur, kalau tidak maka terjadi pertikaian antara perkataan dan
perbuatan. Dalam keadaan terakhir ini, guru sebagai
perangsang(stumulus) telah gagal sebagai model, sebab ia tidak akan
memancing tingkahlaku kejujuran dan murid-muridnya.
2. Oleh sebab model tempat melekatnya nilai-nilai yang ingin
diajarkan kepada murid-murid adalah manusia biasa, dengan pengertian dia
mempunyai kekurangan-kekurangan, maka nilai-nilai yang akan diajarkan
itu boleh menurun nilainya disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang
ada pada model itu, malah ada kemungkinan anak didik mempelajari nilai
sebaliknya. Jadi daripada jujur dia menjadi tidak jujur, jika pada model
itu timbul sifat-sifat atau tingkah laku yang tidak meneguhkan
kejujuran itu. Sebagai misal, ada murid-murid yang benci kepada
matematik sebab ia tidak suka kepada guru yang mengajarkan matematik,
kalau sikap ini dikembangkan, murid-murid boleh benci kepada semua yang
berkaitan dengan matematik, seperti pelajaran sains misalnya. Oleh sebab
itu dikehendaki dari guru-guru, terutama pada tingkat-tingkat sekolah
dasar agar mereka melambangkan ciri kesempumaan dari segi jasmaniah dan
rohaniah. Dengan kata lain syarat penghayatan nilai-nilai sangat
bergantung pada peribadi model yang membawa nilai-nilai itu.
3. Semua guru, terlepas daripada mata pelajaran yang diajarkannya,
adalah pengajar nilai-nilai tertentu. Sebab guru-guru sama ada sedar
atau tidak, mempengaruhi murid-muridnya melalui kaedah-kaedah dan
strategi-strategi pengajaran yang digunakan yang sebahagian besarnya
termasuk dalam kawasan “kurikulum informal”. Sebagaimana setiap guru,
apapun yang diajarkannya, adalah seorang guru bahasa maka setiap guru
juga adalah seorang pengajar nilai-nilai. Bila seorang guru memuji
seorang murid, maka ia meneguhkan sesuatu tingkahlaku. Bila guru
menghukum seorang murid, maka ia menghukum tingkahlaku tertentu. Malah
bila guru tidak mengacuhkan seorang murid, maka murid tersebut mungkin
merasa bahawa guru tidak menyukai perbuatannya. Ini semua adalah
nilai-nilai. Begitu juga dengan pendidikan agama, sebahagian, kalau
tidak sebahagian besar, nilai-nilai agama itu sendiri tidak diajarkan
oleh guru-guru agama di sekolah, tetapi oleh guru-guru matematik,
geografi, sejarah dan lain-lain. Kalau mereka mencerminkan nilai-nilai
Islam dalam cara berpakaian, bersopan-santun, beribadat atau dengan kata
lain kalau amal mereka mencerminkan nilai-nilai Islam. Malah
sebaliknya, mungkin ada setengah-setengah guru-guru agama sendiri tidak
menjadi perangsang nilai-nilai Islam itu, kalau tidak menjadi perangsang
negatif yang boleh menimbulkan sifat anti-agama pada diri murid-murid,
iaitu jika perangai mereka sehari-hari bertentangan dengan nilai-nilai
Islam, walaupun mereka sendiri mengajarkan agama. Jadi jangankan
menghayati agama, sebaliknya murid-murid semakin menjauhi kalau tidak
membenci segala yang berbau agama.
Inilah sebahagian syarat-syarat yang perlu wujud untuk penghayatan
nilai-nilai. Oleh sebab pendidikan agama merupakan pendidikan ke arah
nilai-nilai agama, maka orientasi pendidikan agama haruslah ditinjau
kembali sesuai dengan tujuan tersebut. Pendidikan agama sekadar untuk
lulus ujian mata pelajaran agama sudah lewat masanya. Orientasi sekarang
adalah ke arah kemasyarakatan yang bermotivasi dan berdisiplin. Ini
tidaklah mengesampingkan bahawa dalam pelajaran agama itu sendiri ada
perkara-perkara yang bersifat fakta-fakta dan ketrampilan-ketrampilan.
Maka pada yang terakhir ini juga berlaku kaedah pengajaran fakta-fakta
dan ketrampilan. Tetapi memperlakukan semua pendidikan agama sebagai
pengajaran fakta-fakta dan ketrampilan-ketrampilan saja adalah suatu
kesalahan besar yang perlu diperbaiki dengan segera. Sebab kalau tidak
maka suatu masa nanti akan timbul dalam masyarakat Islam sendiri
ahli-ahli agama yang tidak menghayati ajaran agama atau orang-orang
orientalis yang berdiam di negeri-negeri Timur.
Pengamalan nilai-nilai adalah kelanjutan daripada penghayatan nilai.
Nilai-nilai yang sungguh-sungguh dihayati akan tercermin dalam amalan
sehari-sehari. Sebab penghayatan itu pun berperingkat-peringkat, mulai
dari peringkat yang paling rendah sampai kepada peringkat tinggi,
seperti tergambar pada gambarajah di bawah,
Kelima : Peringkat Perwatakan
Keempat : Peringkat Organisasi
Ketiga : Peringkat Penilaian
Kedua : Peringkat Gerak balas
Pertama : Peringkat Penerimaan
Bila nilai-nilai itu dihayati sampai ke peringkat perwatakan maka ia
sebati dengan sahsiah dan sukar untuk diubah dan sentiasa terpancar
dalam amalan sehari-hari.Kesimpulan. Oleh sebab kode etika itu adalah
nilai-nilai maka ia perlu dihayati dan diamalkan, bukan sekadar
diketahui dan dihafalkan. Di situ juga telah dinyatakan perakuan yang
sepuluh (al-Wisaya al-’Asyarah) tentang segala kerjanya seorang muslim
yang tercantum dalam al-Quran (al-An’am: 151-153).
Sumber: http://biotechs.wordpress.com/2011/02/01/etika-profesi-guru/